Misteri Batu ‘Kutukan’ Muncul Saat Banjir Bandang Di Tapteng, Warga Gempar
Banjir bandang Tapteng bongkar misteri batu ‘kutukan’, warga heboh dan penasaran asal-usul fenomena yang muncul tiba-tiba.
Banjir bandang di Tapanuli Tengah bukan hanya menyisakan kerusakan, tapi juga menghadirkan fenomena mengejutkan. Sebuah batu yang disebut warga sebagai kutukan muncul di tengah aliran sungai, membuat penduduk setempat gempar dan penasaran.
Apa makna di balik kemunculan batu misterius ini? Simak cerita warga di CERITA’YOO dan reaksi mereka terhadap fenomena yang memicu rasa takut sekaligus ingin tahu ini.
Batu ‘Kutukan’ Muncul Di Tengah Banjir Bandang Tapteng
Fenomena menghebohkan terjadi di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Batu berukuran besar muncul di permukiman warga setelah banjir bandang menerjang kawasan tersebut pada Selasa (25/12/2025).
Warga setempat menyebut batu ini sebagai batu ‘kutukan’ karena ukurannya yang luar biasa besar, bahkan lebih besar dari mobil. Bersama gelondongan kayu yang terbawa arus, batu-batu ini menyapu rumah-rumah warga dan menimbulkan kerusakan parah.
Pantauan detikSumut pada Jumat (26/12/2025) menunjukkan batu-batu raksasa tersebut terserak di Lorong 4, Hutanabolon. Selain itu, gelondongan kayu yang ukurannya tidak kalah besar juga tampak berserakan di permukiman, membuktikan betapa dahsyatnya banjir bandang yang terjadi.
Kesaksian Warga Dan Tingginya Air Banjir
Ramaria Hutagalung (49), salah satu warga terdampak, menceritakan ketinggian banjir saat itu mencapai sekitar lima meter. Ia menuturkan bahwa kayu-kayu besar muncul terlebih dahulu, diikuti kemunculan batu-batu besar yang kemudian dijuluki sebagai batu ‘kutukan’.
Mula-mula kayu, habis kayu muncul lah batu dari sungai itu, batu-batu besar itu batu ‘kutukan’, jelas Ramaria. Warga lainnya, Hana Tambunan (38), juga menambahkan bahwa air sungai sudah terlihat keruh seminggu sebelum banjir, membawa kayu-kayu kecil dan material lain yang kemudian menjadi indikasi awal potensi banjir besar.
Baca Juga: La Madukelleng: Pahlawan Bugis yang Namanya Ditakuti di Laut Nusantara
Dampak Alih Fungsi Hutan Terhadap Banjir
Warga menilai banjir bandang yang membawa batu besar ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ramaria menjelaskan bahwa alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit selama sepuluh tahun terakhir menjadi salah satu faktor pemicu banjir.
Hutan yang dulu berfungsi menahan air kini berkurang, sehingga saat hujan deras, air sungai cepat meluap dan membawa material besar ke permukiman. Kalau sebelum ini kami nggak pernah alami banjir seperti ini.
Tapi setelah adanya alih fungsi hutan jadi sawit, sering terjadi banjir karena sawit nggak bisa menahan air lagi, tambahnya. Fakta ini menunjukkan hubungan erat antara perubahan tata guna lahan dan bencana alam yang menimpa masyarakat.
Rumah Dan Kehidupan Warga Terdampak
Hana Tambunan menceritakan rumahnya ikut tersapu banjir bandang, meninggalkan puing-puing kayu besar dan batu ‘kutukan’. Ia menunjukkan pertapakan rumah yang kini dipenuhi material yang dibawa arus. Kondisi ini menjadi bukti nyata besarnya kerusakan yang dialami warga dan menimbulkan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.
Meski peristiwa ini memicu kekhawatiran, warga berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan langkah mitigasi, seperti memperbaiki aliran sungai dan meninjau kembali alih fungsi lahan di kawasan hulu. Mereka menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu, mengingat pola hujan yang intens dan risiko material besar terbawa arus.
Banjir bandang yang membawa batu besar di Tapteng ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan menyiapkan sistem peringatan dini yang efektif. Batu ‘kutukan’ yang muncul bukan hanya fenomena alam yang menakutkan, tetapi juga simbol dari kerentanan wilayah pesisir dan permukiman terhadap perubahan ekosistem akibat ulah manusia.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari lestari.kompas.com
