Mitos Celana Dalam Di Gunung Sanggabuana Yang Mengundang Bahaya
Gunung Sanggabuana, sebuah permata alam yang indah di Karawang, tengah menghadapi ancaman serius terhadap kelestariannya.
Bukan dari eksploitasi hutan, melainkan dari praktik ritual unik yang ironisnya dilakukan atas nama kepercayaan. Fenomena membuang pakaian dalam, seperti celana dalam dan BH, diyakini sebagian orang sebagai cara membuang sial. Namun, di balik keyakinan ini, tersembunyi dampak ekologis dan pergeseran nilai yang mengkhawatirkan.
Berikut ini, CERITA’YOO akan menyelami lebih dalam tentang ritual ini dan bagaimana ia berubah menjadi bumerang bagi lingkungan.
Asal-Usul, Jejak Sejarah Ritual Buang Sial
Ritual membuang pakaian dalam di Gunung Sanggabuana bukanlah hal baru. Menurut pegiat budaya Karawang, Nace Permana, kebiasaan ini sudah ada jauh sebelum ia lahir, dilakukan setiap tahun menjelang malam Jumat Kliwon atau malam Satu Suro. Ini merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat setempat untuk membuang sial setelah berziarah ke makam-makam keramat di sana.
Asal-usul ritual ini diyakini bermula dari peziarah yang mandi di mata air Gunung Sanggabuana. Mereka percaya bahwa mandi di mata air tersebut dapat membersihkan diri dari kesialan, mencari berkah, dan kembali suci. Para peziarah ini kemudian membuang pakaian yang dikenakan setelah mandi sebagai simbol pelepasan kesialan.
Awalnya, kuncen di puncak gunung mengarahkan peziarah untuk membuang celana dalam atau kaos setelah mandi di tiga pancuran utama. Namun, seiring waktu, pembuangan celana dalam menjadi pilihan paling populer. Dulu, ritual ini hanya dilakukan oleh kalangan tertentu dan tidak sebanyak sekarang. Bahkan, pakaian yang sedang dikenakan pun ikut dibuang.
Pergeseran Makna Dan Dampak Lingkungan, Ketika Ritual Berubah Bentuk
Seiring berjalannya waktu, ritual buang pakaian dalam di Sanggabuana mengalami pergeseran signifikan. Nace Permana mengungkapkan bahwa praktik ini kini tidak hanya dilakukan pada hari-hari khusus, tetapi juga pada hari biasa. Intensitasnya pun meningkat, jauh lebih ramai dibandingkan masa lalu.
Praktik ritual ini umumnya terpusat di empat mata air, yaitu Pancuran Emas, Pancuran Kejayaan, Pancuran Kahuripan, dan Pancuran Sumur Tujuh. Selain itu, terdapat 14 makam keramat yang juga dikaitkan dengan ritual pembuangan sial, menambah daya tarik spiritual bagi para peziarah.
Namun, di balik keramaian ini, muncul kekhawatiran serius terhadap kelestarian lingkungan. Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernarld T Wahyu, menilai bahwa ritual ini telah mengancam ekosistem sekitar gunung. Tumpukan pakaian dalam yang dibuang tentu akan menjadi sampah non-organik yang sulit terurai dan mencemari area suci tersebut.
Baca Juga: Salut! Kakek 102 Tahun Masih Semangat Jualan Nasi Bebek Setiap Hari
Ritual Sebagai Komoditas, Ladang Ekonomi Dan Eksploitasi Kepercayaan
Fenomena ritual buang sial ini juga menciptakan perputaran ekonomi bagi warga sekitar. Kehadiran peziarah dari berbagai daerah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan. Ini terlihat dari ramainya warung-warung dan jasa pemandu yang mengantar peziarah ke lokasi-lokasi spiritual.
Nace Permana membenarkan bahwa ramainya peziarah membawa dampak positif bagi ekonomi lokal. Warung-warung menjadi ramai pembeli, dan beberapa warga mendapatkan upah sebagai pengantar atau pemandu ke pancuran. Ini menunjukkan bagaimana aspek spiritual dapat bersentuhan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Namun, Bernarld T Wahyu menyoroti sisi gelap dari komodifikasi ritual ini. Ia melihat adanya kemunculan kuncen-kuncen baru yang menarik keuntungan dari ritual tersebut, bahkan mematok tarif sekitar Rp 250 ribu per orang untuk jasa pemanduan dan perlengkapan ritual. Hal ini tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi mengeksploitasi kepercayaan peziarah demi keuntungan pribadi.
Menjaga Harmoni, Solusi Untuk Melestarikan Alam Dan Budaya
Untuk menjaga kelestarian Gunung Sanggabuana, edukasi tentang dampak lingkungan dari ritual ini menjadi sangat penting. Masyarakat perlu disadarkan bahwa tindakan membuang pakaian dalam, meski atas dasar kepercayaan, dapat merusak ekosistem dan mencemari sumber daya alam. Alternatif ritual yang lebih ramah lingkungan perlu diperkenalkan.
Pemerintah daerah dan komunitas lokal perlu berkolaborasi untuk menemukan solusi yang berkelanjutan. Ini bisa melibatkan pembentukan zona-zona khusus untuk ritual yang tidak merusak lingkungan, atau mungkin mengembangkan program daur ulang untuk pakaian yang dibuang, sehingga tidak menjadi sampah.
Penting juga untuk meninjau kembali aspek komersialisasi ritual ini. Perlu ada regulasi atau kesepakatan komunitas untuk mencegah eksploitasi berlebihan terhadap kepercayaan peziarah dan memastikan bahwa aktivitas ekonomi yang muncul selaras dengan upaya konservasi lingkungan Gunung Sanggabuana.
Jangan lewatkan waktu berharga Anda dan temukan beragam kisah inspiratif dan cerita penuh semangat yang siap memotivasi langkah Anda, hanya di CERITA’YOO.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari travel.detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com
