Cerita Sejarah Candi Mendut, Saksi Bisu Kejayaan Mataram Kuno
Candi Mendut di Jawa Tengah menyimpan sejarah Mataram Kuno, memukau pengunjung dengan keindahan dan nilai spiritualnya.

Di tengah tanah Jawa Tengah yang subur berdiri megah Candi Mendut. Bukan sekadar bangunan batu, candi ini menandai kejayaan peradaban Mataram Kuno dan menyimpan cerita tentang spiritualitas, seni, serta kebijaksanaan masa lampau. Mari telusuri kisah di balik candi yang memancarkan ketenangan ini.
Temukan berbagai informasi menarik lainnya dan bermanfaat yang akan memperluas wawasan Anda hanya di CERITA’YOO.
Jejak Awal Dan Penemuan Kembali
Sejarah Candi Mendut berakar pada masa kejayaan Dinasti Syailendra, penguasa Kerajaan Mataram Kuno yang menganut agama Buddha. Candi ini diyakini dibangun pada awal abad ke-9 Masehi, tepatnya sekitar tahun 824 Masehi. Pembangunannya bersamaan dengan Candi Borobudur dan Candi Pawon, membentuk satu kesatuan ritualistik yang penting.
Setelah sekian lama berdiri, Candi Mendut sempat terlupakan dan terkubur di bawah timbunan tanah dan vegetasi. Penemuannya kembali pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1836, menjadi titik awal restorasi. Upaya ini membangkitkan kembali keindahan dan makna historis candi dari tidurnya yang panjang.
Proses restorasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, khususnya oleh arsitek dan arkeolog seperti J. W. Ijzerman, sangat penting. Mereka berhasil menggali, membersihkan, dan merekonstruksi bagian-bagian candi yang runtuh, mengembalikan wujud aslinya yang menawan kepada dunia.
Arsitektur Megah Dan Simbolisme Religius
Candi Mendut menonjol dengan bentuk denah persegi dan atap berundak, khas gaya arsitektur candi Buddha di Jawa. Ketinggian aslinya diperkirakan mencapai sekitar 26,4 meter, meskipun beberapa bagian puncak candi telah hilang. Struktur bangunannya memperlihatkan keahlian tinggi para pemahat kuno.
Pada bagian utama candi, terdapat tiga arca Buddha berukuran besar yang sangat mengesankan. Arca Buddha Wairocana, Bodhisatwa Avalokitesvara, dan Bodhisatwa Vajrapani duduk anggun, memancarkan kedamaian dan kebijaksanaan. Arca Wairocana diapit oleh dua Bodhisatwa, melambangkan ajaran Buddha Mahayana.
Relief-relief yang menghiasi dinding candi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Penggambaran cerita-cerita Jataka dan Awadana, serta makhluk-makhluk kayangan, bukan hanya indah secara artistik. Relief-relief ini juga berfungsi sebagai media pengajaran moral dan spiritual bagi para penganut Buddha pada masa itu.
Baca Juga: Legenda Sumatra Selatan, Duel Seru Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Hubungan Erat Dengan Candi Borobudur Dan Pawon

Candi Mendut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian integral dari kompleks percandian Buddha yang lebih besar. Ia membentuk satu garis lurus dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur, yang berjarak sekitar 3 kilometer ke arah barat. Keselarasan ini menunjukkan adanya perencanaan tata letak yang matang.
Hubungan antara ketiga candi ini bersifat ritualistik. Candi Mendut dipercaya sebagai tempat umat Buddha mempersiapkan diri sebelum memulai perjalanan spiritual menuju Borobudur. Sementara itu, Candi Pawon berfungsi sebagai tempat pembersihan diri atau penyucian, sebelum mencapai puncak pencerahan di Borobudur.
Secara simbolis, Candi Mendut dapat diartikan sebagai awal perjalanan spiritual, di mana seseorang menenangkan pikiran dan membersihkan batin. Candi Pawon sebagai tahap pemurnian, dan Candi Borobudur sebagai puncak pencapaian spiritual atau nirwana. Ketiganya melambangkan tahapan dalam pencarian pencerahan.
Warisan Budaya Yang Abadi
Sebagai salah satu candi Buddha tertua di Indonesia, Candi Mendut adalah situs bersejarah yang sangat penting. Keberadaannya memberikan wawasan berharga tentang perkembangan agama Buddha, seni pahat, dan arsitektur di Nusantara pada masa lampau, terutama pada era Mataram Kuno.
Hingga kini, Candi Mendut masih menjadi pusat kegiatan keagamaan, terutama saat perayaan Hari Raya Waisak. Ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru datang untuk beribadah dan merayakan hari suci tersebut, menegaskan relevansi spiritual candi ini di era modern.
Melestarikan Candi Mendut adalah tanggung jawab kita bersama. Sebagai warisan budaya dunia, candi ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga kemanusiaan. Keberadaannya mengingatkan kita akan kekayaan sejarah dan spiritualitas yang tak ternilai harganya.
Jangan lewatkan waktu berharga Anda dan temukan beragam kisah inspiratif dan cerita penuh semangat yang siap memotivasi langkah Anda, hanya di CERITA’YOO.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari id.wikipedia.org
- Gambar Kedua dari expedia.co.id
