Jelang Ramadan, MUI Ingatkan: Bangunkan Sahur Jangan Ganggu Tetangga!
Jelang Ramadan, MUI ingatkan warga agar bangunkan sahur dengan santun dan tidak mengganggu ketenangan tetangga sekitar.
MUI menekankan pentingnya menjaga ketertiban lingkungan saat sahur, agar seluruh warga bisa tetap nyaman dan ibadah berjalan lancar.
Simak di CERITA’YOO tips dan imbauan MUI untuk bangunkan sahur yang efektif, sopan, dan tetap menjaga harmoni di lingkungan sekitar, terutama menjelang bulan suci Ramadan.
MUI Ingatkan Etika Membangunkan Sahur Menjelang Ramadan 2026
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengingatkan umat Muslim agar membangunkan sahur dengan cara yang sopan dan tidak mengganggu warga sekitar. MUI tetap menganjurkan masyarakat menjalankan tradisi ini, tetapi mereka harus mempertimbangkan kondisi sosial, terutama di kota-kota besar.
Wakil Ketua Umum MUI, Kiai Cholil Nafis, menekankan bahwa masyarakat harus menyesuaikan kebiasaan membangunkan sahur karena tidak semua warga kota besar menjalankan puasa, agar tidak menimbulkan gangguan. Budaya ini tetap penting sebagai momen kebersamaan, tetapi harus sejalan dengan ketertiban dan kenyamanan lingkungan.
MUI menekankan bahwa ibadah dan tradisi Ramadan seharusnya berjalan harmonis. Dengan membangunkan sahur secara bijak, masyarakat bisa tetap menjalankan tradisi tanpa menimbulkan ketidaknyamanan bagi tetangga atau lingkungan sekitar.
Penggunaan Pengeras Suara Secara Bijak
MUI menekankan pentingnya penggunaan pengeras suara. Kiai Cholil mengingatkan masyarakat untuk hanya menggunakan speaker saat benar-benar diperlukan, terutama saat membangunkan orang yang berpuasa.
Penggunaan pengeras suara yang berlebihan dapat mengganggu warga yang tidak berpuasa, anak-anak, atau orang yang masih tidur. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengatur volume suara agar tetap sopan dan tidak menimbulkan kebisingan berlebihan.
Dengan mengatur pemakaian speaker secara bijak, tradisi membangunkan sahur tetap efektif. Masyarakat tetap bisa membangunkan warga, tetapi mereka harus memastikan lingkungan tidak terganggu dan tetap nyaman.
Baca Juga: Tak Terduga! Persahabatan Ajaib Ayam dan Ikan Tongkol Yang Mengajarkan Nilai
Membangunkan Sahur Dengan Jeda Dan Bertahap
Kiai Cholil menekankan pentingnya membangunkan sahur secara bertahap. Misalnya, masyarakat memulai membangunkan warga pada jam 03.30 WIB, kemudian melanjutkannya pada jam 04.00 WIB dan 04.30 WIB.
Memberikan jeda antar waktu membuat masyarakat bisa tetap beristirahat dan tidak terganggu oleh suara yang terus-menerus. Strategi ini membuat tradisi sahur tetap berjalan efektif tanpa menimbulkan keresahan di lingkungan.
MUI mendorong masyarakat agar membangunkan sahur sesuai waktu yang tepat. Pendekatan bertahap ini memudahkan pengaturan suara, menjaga kenyamanan, dan tetap melestarikan budaya sahur yang sudah ada.
Memperhatikan Kesesuaian Dengan Syariat Islam
Selain aspek sosial, MUI juga mengingatkan agar tradisi membangunkan sahur tetap sesuai dengan ajaran Islam. Masyarakat harus melakukan kegiatan berkeliling untuk membangunkan sahur secara sopan dan menyesuaikan norma agama.
Misalnya, warga tidak diperbolehkan berpakaian menyalahi gender atau melakukan hal-hal yang dapat menyinggung orang lain. Semua aktivitas harus berada dalam koridor syariat dan akhlak Islam, agar tradisi tetap bermanfaat dan mendidik.
Dengan memperhatikan prinsip Islam, tradisi sahur menjadi ibadah yang selaras dengan ajaran agama. Hal ini menekankan bahwa kebiasaan baik juga harus dilakukan dengan etika dan akhlak yang benar.
Membangun Tradisi Sahur Yang Harmonis
Tujuan utama imbauan MUI adalah menciptakan keseimbangan antara tradisi dan kenyamanan masyarakat. Membangunkan sahur tetap bisa dilakukan dengan cara santun, bertahap, dan sesuai dengan ajaran agama.
Warga diharapkan saling menghormati saat sahur berlangsung, menyesuaikan volume suara, dan menghindari tindakan yang dapat mengganggu tetangga. Pendekatan harmonis ini menjadikan tradisi sahur momen positif dan menyenangkan.
Dengan etika yang tepat, budaya membangunkan sahur dapat tetap dijalankan setiap Ramadan. Hal ini memastikan ibadah berlangsung khusyuk, lingkungan tetap nyaman, dan hubungan sosial antarwarga tetap harmonis.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari kumparan.com
